Darurat! Penulis Dalam Zona Ironi




Darurat! Penulis Dalam Zona Ironi


 (Oleh: Ani Hidayatul Munawaroh)


Menulis adalah menafsirkan kehidupan dalam bentuk aksara. Menulis juga mengandung banyak sekali manfaat yang akan didapatkan, seperti yang telah diutarakan oleh Pramoedya Ananta Toer yakni “Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang didalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Yakni, tulisan akan terus ada, terus dibaca, meskipun orang yang menulis telah tiada. Selain bekerja keabadian, menulis juga mampu memberikan manfaat “berbagi”, yakni membagikan apa-apa yang diketahui seseorang kepada orang lain. dengan begitu bisa digunakan untuk mengamalkan ilmu yang dimiliki. Bukan hanya itu, menulis buku buku harian saja memiliki manfaat tersendiri, yakni kepuasan terhadap apa yang telah ditulisnya, juga bisa digunakan untuk ajang intropeksi diri di kemudian hari.

Ironis, jika seseorang ingin pergi ke tempat yang sangat jauh akan tetapi kendaraan pun tak ada. Meskipun dengan berjalan, akan memakan waktu banyak yang waktu tersebut jika digunakan untuk hal-hal lain akan lebih berguna. Dalam sebuah kasus tertentu yang juga sering dialami oleh para penulis adalah media tulis elektronik, alias komputer. Zaman semakin berkembang, manusia juga dituntut untuk bisa mengimbanginya dengan sebaik mungkin. Setiap orang yang memiliki hobi ataupun cita-cita menjadi seorang penulis adalah mampu menulis buku dan  menerbitkannya, akan tetapi apa yang terjadi apabila pelakon masa depan tersebut mengalami kesusahan materi berupa media untuk menulis?

Hal ini sering terjadi, dan begitu disayangkan. Pasalnya, keinginan menulis saja sudah menjadi pertanda baik bahwa orang tersebut mau berusaha, meskipun masihlah memerlukan pembuktian yang nyata. Mungkin mereka akan mengembangkan harapan mereka menjadi usaha dengan menulis buku mereka di dalam buku fisik biasa, dan mencari cara agar bagaimana tulisannya tersebut mampu diketik dan dikirim kepada penerbit. Akan tetapi di zaman modern ini telah banyak ditemui jasa pengetikan yang bisa menolong kasus yang dialami. Akan tetapi menulis buku yang ingin diterbitkan, konteksnya begitu penting dan pastinya seorang penulis ingin mengetik sendiri hasil tulisannya. Ini berbeda dengan sekadar menulis buku harian, atau agenda harian, akan tetapi menulis sebuah gagasan yang memang harus diabadikan, baik secara elektronik maupun cetak.

Orang yang mengalami kesusahan serupa haruslah didukung apa yang menjadi usahanya. Dukungan kecil biasanya berasal dari orang terdekat, yakni orang tua dan saudara. Seseorang akan semangat dalam menggapai apa yang diinginkannya apabila banyak yang mendukung dan siap membantu.

Untuk menghadapi ke-ironian semacam ini, seseorang tidak boleh bergantung kepada apa yang akan terjadi tanpa adanya ikhtiar yang sungguh-sungguh. Hewan saja jika lapar pasti mencari makanan sejauh mereka jalan, apalagi manusia ketika memiliki tekad yang kuat. Berikut adalah tips atau cara yang mampu meningkatkan semangat seseorang dalam produktif menulis meskipun tanpa komputer;
1.      Memercayai Bahwa Usaha Tidak Akan Mengkhinati Hasil.
Dalam sebuah usaha, seseorang pasti mengalami pasang surut semangat karena beberapa faktor. Misalnya saja faktor kesusahan dalam menulis buku tanpa menggunakan komputer. Ada banyak cara menuju roma, begitulah ibarat yang bisa diberikan kepada orang-orang yang terus semangat menulis meskipun hanya bisa menulis di atas kertas, dan nantinya disetorkan kepada jasa pengetikan.
2.      Meyakinkan Diri Sendiri Bahwa Menulis Buku Tidak Harus Menggunakan Komputer
Ibarat tak ada ranting akar pun jadi. Meski hanya dengan kadar seadanya dan sebisanya dalam berusaha, namun dengan kreatifitas yang terus diasah, kemampuan yang terus dikembangkan, rajin membaca buku, dan pengalaman-pengalaman baru terus digali, maka dalam bahasa tulisan seseorang akan meningkat, bahkan melebihi penulis yang dengan mudahnya menulis menggunakan komputer.
3.      Gemar membaca dan Mendengarkan Motivasi
Dengan sering membaca dan mendengar motivasi-motivasi kehidupan dari tokoh-tokoh terkemuka juga mampu mendorong lebih semangat dalam menulis. Contohnya ucapakan Pramoedya Ananta Toer (Mama, 84), Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu tak akan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”  Meskipun sederhana namun cukup membekas.

Begitulah minimalnya apa yang harus dilakukan. Sebagai seorang penulis, apalagi pemula yang ingin menulis buku namun tidak ada komputer sebagai media meng-elektronikkan tulisan, tetaplah menulis, tetap semangat mengejar apa yang menjadi cita-citanya sejak dahulu, dan tentunya tidak merasa rendah diri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pergaulan Sebagai Cetakan Karakter Anak

Nihayah