Nihayah



Nihayah
(Puncak)
By: Any Ranyka

~oOo~

Senja. Anganku mulai melayang ke waktu yang belum terlalui. Pikiranku merantau ke waktu yang belum mampu terjamahi, apakah akan terjadi atau halusinasi. Aku mendongak, menatapmu yang berjalan dengan senyuman lalu mengambil posisi duduk di sampingku. Kulirik tanganmu membawa kitab tafsir kesukaanmu.

Hal krusial menjadi tabu kala ingatan mulai memudar. Perlahan-lahan hilang dan lenyap begitu saja. Yang telah dilalui raib bersama dentum jam yang setiap hari berputar. Waktu berlalu cepat meninggalkan jejak masa lalu. Wajah keriput, kulit kusam, bagai daun yang dulunya hijau segar, kini berubah menjadi layu. Ia memunggungi awan dan menunggu waktu untuk menjatuhkannya.

Asa yang sempat terlontar menjadi pijakan masa yang tak terlupakan. Menikmati hitam dan putih kehidupan di setiap harinya. Kupahami rambut indah yang tak lagi hitam seperti dulu. Aku terduduk manis di depan jendela kamar. Berteman bingkai kenangan tentang masa muda dulu. Memandangi anak cucu berlarian di halaman rumah. Memerhatikan canda tawa mereka, serta panorama kehidupan yang selalu terputar di benak. Tentang kapan aku dilahirkan, bagaimana aku melalui masa kecil, sampai bagaimana aku hidup sampai umur sekian ini. Anugerah Tuhan memang tak pernah memiliki nomor dua.

Mataku berkedip sekali. Kau membelai rambut putihku dengan nyaman. Tersenyum sembari menatapku serta mendudukkan tubuh di sampingku.

“Lantas?” tanyamu yang mengundangku untuk tersenyum.

“Tanpa disadari ternyata hidup ini begitu singkat. Kita terlalu sibuk dengan keseharian sehingga waktu berlalu begitu saja. Namun, tanpa kesibukan kita tak akan mampu merasakan nikmatnya hidup,” ucapku menjawab pertanyaanmu.

“Kau benar, Istriku.” Senyummu merekah, belaian tanganmu terasa lembut di atas rambut putihku.

Kini, atensiku denganmu terfokus pada kebahagiaan di luar sana. Di balik jendela kamar yang tersekat oleh kaca transparan. Menghayati demi masa yang menuju senja. Menemani surya berpamitan kepada siang untuk melanjutkan perjalanan. Mengindahkan masa tua dengan penuh pengharapan kepada Tuhan.

Aku pun kembali tersenyum dan tersadar dari lamunan.

Itulah segenap pemikiran yang selalu mengantarkanku pada kejadian masa yang mendatang. Ketika wajahku tak secantik sekarang, rambutku tak sehitam ini, serta kulit yang tak lagi mulus. Harapan untuk bersamamu, merengkuh pundakmu, dan bahagia menghabiskan waktu tua.

“Abi, terima kasih,” ucapku lirih.

Kau menatapku dan menyiratkan pertanyaan. Aku mengedipkan kedua kelopak mata dengan tujuan menyiratkan. Kita biasa berbicara dengan kata-kata tak terucap semacam ini, dan itu selalu mampu kita pahami. Akhirnya, kau mengangguk pelan dan menatapku penuh arti. Keteguhan yang tak mampu kulupakan. Sampai nanti Tuhan mencabut ingatan indah ini dari memoriku. Waktu teruslah berjalan, meskipun keras kepalaku untuk memertahankan waktu bersamamu, tak akan mampu menembus kekuatanNya.

Jarum jam terus berjalan. Kau tetap Muhammad Hafidz, pria yang menarikku dalam lembah kasih. Senyummu, kasihmu, pengorbananmu, keberanianmu, menyatakan jika kau benar-benar Hafidz yang kupanggil Abi, milikku. Bibirku semakin tak kuasa mengucapkan kata terima kasih kepada Tuhan dan untukmu setiap hari.

- Najma-

Ponorogo, 17 Juni 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pergaulan Sebagai Cetakan Karakter Anak