Taehyung, Where Are You?
·
Cast :
All mambers BTS
·
Genre :
Horror, Comedy
·
Lenght :
One Shoot
“Dasar pikun!”
“Ma’afkan aku, sepertinya kita tersesat.”
“Well, siapa yang akan bertanggungjawab?”
“Kalian semua.”
------
Jungkook, Taehyung, dan Jimin asik memotret bagian-bagian
unik di villa terpencil ini, walaupun penerangan nampak megap-megap seperti ikan kehabisan napas di
daratan, namun tiga orang termuda dari empat lainnya ini nampak menikmati
sekali.
“Sudahlah, untung ada bapak-bapak tadi yang memberikan kita
tumpangan gratis.” Ucap Taehyung yang kembali diasikkan mencari harta karun di
dalam hidung. Astaga!
“Itu jorok tau!” geram Jungkook menangikis tangan Taehyung.
Empat orang lain, Hosek, Seok Jin, Namjoon, dan Yoongi memerhatikan atap villa
yang hampir tak beratap.
“Bagaimana jika hujan?” Tanya Namjoon penuh selidik.
“Kau harus tanggung jawab! Setidaknya kau memayungi tubuh
kami semua.” Jimin menjawab asal. Yoongi mendesah, masih sempatnya orang
terimut itu bercanda disaat seperti ini. Namjoon melirik Jimin sekilas,
pandangannya kini mengedar, mencari sesuatu.
Seklebatan bayang putih melintas cepat. Namjoon terkaget.
Dadanya kembang kempis dengan cepat, darahnya mendesir. “Apa itu?”
“Ada apa?” Hoseok mendekat.
“I-I-Itu! A-A-Ada sesuatu di sana!” Namjoon menunjuk ke
arah depan, Hoseok terdiam. Mencerna ucapan hyeongnya itu. “Di sana ada
sesuatu?” ulangnya lirih.
“AAAAAAAAAA” Taehyung berteriak melengking sekitar lima
oktaf, hampir sama dengan suaranya Mariah Carey. Patut jika ia bisa ikut Ameican
Idol tahun ini. Semua orang terkaget dan ikut berteriak.
“ADA APA TAEHYUNG-AH?!!” Seok Jin bertanya setengah
berteriak. Keringat dingin membanjiri wajah Leonardo De Caprio versi Korea ini.
Taehyung melompat ke kanan dan ke kiri. Ada yang tak beres dengan anak alien
ini.
“Ada apa? ada apa?” Yoongi mendekat, berusaha menenangkan
Taehyung.
“A-aku! I-i-ingin.. mmmphhh.” Taehyung menggantungkan
ucapannya dengan memegangi perutnya. Yoongi merasa tak sabar, ia pukul pundak
Taehyung agar ia lancar bersuara “Mmmph... Aw!! AKU INGIN BUANG AIR BESAR!” ia
membekap mulutnya sendiri yang spontan berteriak.
Semua orang menghela napas lega. “Kupikir kau melihat
sesuatu, atau semacamnya.” Hoseok berceloteh tenang.
“I-Iya, masalahnya di mana aku bisa melakukan ritual ini?”
jawab Taehyung tergagap.
“Ritual?” tanya Jimin heran.
“Maksudnya buang air besar, Hyeong!” Sahut Jungkook. Jimin
menoleh ke arahnya dan tersenyum manja.
“Astaga, Kookie!” serunya sembari menempel di punggung
Jungkook seperti koala. Aneh, as usually.
Taehyung semakin tak bisa diam. Ia bergerak kesana kemari,
tangannya kini sibuk memegang pantat, mencegah sesuatu keluar darinya.
Truuuut!
Preketek! Preketek! (Parah bener kentut lo!)
Semua pasang mata saling pandang. Terakhir memandang Taehyung
yang nampak kesakitan.
“Aish! Bau apa ini?” Yoongi memencet hidungnya. Mencegah
bau itu masuk ke dalam paru-paru dan mengakibatkannya mual. Taehyung tersenyum,
menampakkan gigi putihnya. Kurang lebih seperti iklan pasta gigi di televisi.
“TAEHYUNGIEEEE!!!” Teriak Hoseok merasa terganggu dengan
bau telur busuk ini.
“Ma-ma-ma’af... habisnya perutku sakit sekali.” Sesal
Taehyung memelas.
“Ayo cari water closet di rumah ini.” Akhirnya Namjoon
memberanikan diri. Namun tangannya menarik lengan Jimin.
“Ada apa?” Tanyanya.
“Temani aku mencarinya.” Namjoon meringis usil ke arah
manusia charming di sampingnya.
“Ba-ba-baiklah.” Jimin ragu mengucap. Tangannya kini
merangkul lengan Jungkook. Tanpa bertanya untuk apa, Jungkook lantas menarik
lengan Hoseok “Temani kami mencarinya.” Ujar Jungkook dengan gigi tongosnya.
Hoseok menarik lengan Yoongi, tapi ditangkisnya. “Dasar penakut!” seru Yoongi.
Akhirnya lengan Seok Jin ia tarik. “Hyeong! Bantu kami.”
Sebelum mengangguk untuk mengiyakannya, Seok Jin mengerling Yoongi dan
tersenyum “A-aku akan ikut mencarinya.”
Tanpa pikir panjanng Namjoon yang berada di barisan paling
depan bersama Taehyung melangkahkan kakinya dengan sedikit ragu menyusuri vila
ini.
Yoongi tak berubah pikiran. Ia masih berpegang teguh kepada
janji suci yang telah diucapkan. Namun baru lima langkah mereka meninggalkannya,
Yoongi melihat seklebatan bayangan putih melesat cepat di sampingnya.
“Hyeong! Tunggu aku!!” Teriaknya mengekor di belakang Seok
Jin. “Dasar sok berani!” geram Hoseok sembari menoleh ke belakang sekilas.
Lama. Sekitar setengah jam mereka belum menemukan tempat
yang mereka cari. Hanya bermodal dua senter. Yang satu dibawa Namjoon, dan
satunya di bawa Seok Jin. Walaupun masih ada lampu remang-remang, itupun tak
terlalu terang. Sementara, bau kentut
semakin menari-nari indah di udara. Mengusik usil, memaksa masuk melalui lubang
hidung.
“Kentut mu bau sekali!” Seru Jungkook yang mulai tak tahan
dan terbatuk-batuk.
Namjoon sedikit berseru saat menemukan pintu khas kamar mandi
berada di depannya. Bisa ditebak jika pintu di sampingnya adalah water closet.
“Mungkin di sana!” serunya. Semua pasang mata mengikuti arah jari telunjuk
Namjoon. Semuanya terperangah, senang. Tanpa pikir panjang Taehyung
memasukinya. Dengan senjata senter sebagai penerang benda berharga itu.
Taehyung menahan rasa sesal. Sepertinya ia ingin berteriak
sekuat tenaga, menghabiskan sisa pita suaranya yang tinggal sedikit lagi akan
menggema. Ia ingin mengumpat, dengan semua kebun binatang keluar dari bibirnya.
Kotoran siapa yang mengepul manis dengan luwesnya ini?!!!
“Astaga bau sekali!” ucapnya lirih.
“TAEHYUNGIE!! BAGAIMANA?!!” Teriak Namjoon dari luar.
Taehyung menjawab dengan ragu. “I-iya Hyeong! Sebentar lagi selesai.”
Bohongnya. Tak ada sahutan lagi dari luar. Namun bisa didengar dari dalam jika
Jimin kembali menggoda dongsaeng kesayangannya itu. Awas saja jika Jimin
macam-macam dengan Jungkook.
Sedikit sesal kembali, air di sini habis. Bisa dinalar jika
tak ada air di sini. Tempat ini berada
di tengah hutan, jarang terjamah manusia. Taehyung terdiam sejenak. Sementara
perutnya semakin sakit. Apa boleh buat, mau tidak mau ia harus menunggu sampai
esok tiba, saat matahari menampakkan iklan pasta gigi khasnya dan menertawakan
Taehyung yang kebelet.
Taehyung keluar dengan wajah pucat pasi. Sebisa mungkin ia
memaksa senyum kotak miliknya. Namun terlihat cukup aneh.
“Sudah?” Namjoon bertanya. Taehyung menjawabnya dengan
menganggukkan kepala berulang kali. namjoon nampak bernapas lega.
“Heyong! Tapi aku tak mendengar gemericik air?” Jungkook
menyahut. Membuat Jimin menangguk-angguk mendukung pertanyaan dari Jungkook.
“Sudahlah, mari ke ruang utama. Segera istirahat. Dan besok
bisa pulang.” Taehyung melesat cepat, menuju ruangan awal mereka memasuki vila
ini. Membuat semua pasang mata terheran dengan pergerakan Taehyung yang cepat.
Seok Jin mengekor di belakang Taehyung. Lantas mereka semua kembali ke tempat
awal. Ada satu sofa panjang dan tiga sofa pendek. Taehyung segera mengambil
posisi di salah satu sofa kecil. Sofa yang satunya dipilih oleh Seok Jin dan
Hoseok. Sementara Jimin, Jungkook, Namjoon, dan Yoongi terpaksa berbagi tempat
di sofa panjang yang ada. Hening terasa. Taehyung susah berlabuh dalam mimpi. Perutnya mulas dan
ingin kentut lagi. Tapi bagaimana jika mereka terbangun?
Kentut itu tak bisa ditahan. Namjoon tebangun.
“Taehyung apa kau kebelet lagi? Mau kuantar?”
“Ahhh tidak Hyeong. Ma’af aku mengganggu tidurmu.” Ucapnya.
Mata Taehyung menangkap Jungkook dan Jimin bersebelahan. Mendengus kesal. Awas
saja nanti!
------
Semburat matahari menyinari. Membuat semua pasang mata
mengerjap-ngerjap, terganggu. Mereka terbangun. Sedikit terkaget karena tak ada
sosok Taehyung di sana.
“Kemana alien kita?” Tanya Hoseok yang terlihat panik.
“Dan, di mana kita?”
Mereka terkaget ketika mereka berada di tengah hutan. Bukan di dalam vila.
Jungkook mengerling jam tangan hitam yang ia kenakan. Pukkul tujuh lebih lima
menit.
Namjoon terdiam. Sepertinya ia mendapat ilham untuk
menemukan jalan kaluar dalam otaknya. Dua menit kemudian, Namjoon akhirnya
mengingat jalan untuk pulang. Pria lesung pipit itu berseru, mengabarkan kepada
semua orang yang ada.
“Kenapa baru sekarang kau mengingatnya?!” Yoongi merasa
terganggu dengan otak manusia pintar ini. Kenapa mudah sekali lupa?
Akhirnya, mereka berjalan yakin mengekor di belakang
Namjoon. Dalam perjalanan, keenam pria bertalenta wajah tampan dan patut jadi
iklan kebersihan wajah tanpa jerawat ini menyebut-nyebut nama Taehyung.
Walaupun jalan pulang telah di depan mata, tapi menghilangnya Taehyung membuat
pikiran mereka cemas. Kalau-kalau dia dimakan ayam buas di hutan ini. Eh?
Lama. Sekitar satu jam, perjalanan melelahkan. Akhirnya
mereka telah berdiri gagah di depan dorm. Namjoon segera memasukinya, dan
bernapas lega. Menghirup kembali bau kaos kaki di dalam sini. Bau tapi membuat
hati tenang. Ia terheran dengan mengerutkan dahi. Taehyung? Kok bisa?
Taehyung dengan santainya sudah terlelap manis dengan
boneka bebek di dekapannya. Jika Taehyung bisa pulang berarti dia tahu jalan
pulang? Astaga, alien!
Namjoon segera membangunkannya. Bagaimanapun Taehyung
membuat setengah jiwanya terkikis oleh rasa khawatir. Menghitamkan awan di atas
kepalanya, menggulung rasa bahagia menemukan jalan pulang. Taehyung separuh
jiwanya.
“HEY!! KENAPA KAU PULANG DAHULU?!! KAMI SEMUA KHAWATIR
KARENAMU!” Teriak Namjoon. Taehyung mengerjapkan mata. Melihat sosok garang
Namjoon beteriak asik di depannya.
“Pulang dahulu? Khawatir? Apa yang kau maksud Hyeong??” Dahi
Taehyung berkerut merasa aneh dengan ucapan Namjoon. Bibir imutnya menguap
spontan.
“Hey! Taehyung! Umurmu masih dua puluh satu tahun, dan kau
sudah pikun?” Namjoon menyipitkan mata. Kini Jungkook dengan Jimin yang masih
asik menggeliat di lengannya, Hoseok, Seok Jin, dan Yoongi memasuki kamar
Taehyung. Ikut terkaget, sama halnya Namjoon.
“Kalian yang sudah pikun! Aku kemarin tak ikut dengan
kalian. Jelas-jelas aku ada urusan dengan Manager.”
“APA??!!” Teriak Jimin sedikit berlebihan. Melebihi
suaranya Celine Dion saat melantunkan lagu Soundtrack film Titanic. My Heart
will go on.
Jungkook mencubit lengan Jimin dengan keras. Pasalnya suara
itu sangat dekat di telinganya. Semuanya terdiam, memikirkan kejadian kemarin
siang sebelum pergi menghilangkan penat.
Memang benar, Taehyung meminta izin tak bisa ikut dengan
mereka. Waktu itu sosok Taehyung yang bersama mereka datang terlambat saat
mereka telah sampai di tengah hutan.
“Ada apa? kenapa semuanya diam?” Taehyung masih bingung
dengan apa yang terjadi.
Satu persatu dari mereka pergi meninggalkan tempat.
Dijamin, wajah pucat pasi menghiasi wajah indah kelima pria tampan ini. Takut
membahas kejadian semalam. Malas juga untuk mengenang dan menjadikannya sebagai
memori terkenang sepanjang jalan tol. Malas juga menceritakan semua hal ganjil,
gila, sampai bau kentut itu kepada Taehyung. Pria alien itu akan tertawa,
mencemooh cerita ini.
Kecuali Namjoon yang nampak lemas, dan tertunduk di atas
lantai. Bagaimana bisa sosok doppelganger menyapanya di malam hari. Kebelet buang
air besar, dan kentut. Setan bisa kentut? Pantas saja baunya melebihi apapun
yang ada. Melebihi parfum dorm kaos kaki ini.
“Astaga, ada apa dengan kalian?” Taehyung tak mengerti.
~fin
Doppelganger : Secara sederhana, diartikan sebagai ruh
jahat yang mengambil rupa seorang manusia.

Komentar
Posting Komentar