Postingan

Nihayah

Gambar
Nihayah (Puncak) By: Any Ranyka ~oOo~ Senja. Anganku mulai melayang ke waktu yang belum terlalui. Pikiranku merantau ke waktu yang belum mampu terjamahi, apakah akan terjadi atau halusinasi. Aku mendongak, menatapmu yang berjalan dengan senyuman lalu mengambil posisi duduk di sampingku. Kulirik tanganmu membawa kitab tafsir kesukaanmu. Hal krusial menjadi tabu kala ingatan mulai memudar. Perlahan-lahan hilang dan lenyap begitu saja. Yang telah dilalui raib bersama dentum jam yang setiap hari berputar. Waktu berlalu cepat meninggalkan jejak masa lalu. Wajah keriput, kulit kusam, bagai daun yang dulunya hijau segar, kini berubah menjadi layu. Ia memunggungi awan dan menunggu waktu untuk menjatuhkannya. Asa yang sempat terlontar menjadi pijakan masa yang tak terlupakan. Menikmati hitam dan putih kehidupan di setiap harinya. Kupahami rambut indah yang tak lagi hitam seperti dulu. Aku terduduk manis di depan jendela kamar. Berteman bingkai kenangan tentang masa muda...

Kumpulan Puisi

Gambar
Assalamu'alaikum.... Kali ini saya ingin membagikan beberapa puisi yang masuk dalam dapur " dihapus sayang " :) Mari dibaca, kalau mau ada kritik saran sangat diharapkan. Puisi zaman-zaman Mts Maaf jika sedikit kuker ya, hahaha. Zaman dulu mah, belum pernah tahu model puisi gimana yang benar, asal asik nulis aja tanpa beri keterangan waktu. wks. Ini ada lagi yang sengaja kubuat model pict ya. Tapi, untuk sisanya hanya berupa tulisan saja sih, belum sempat buat versi pict hew. :) Berikut puisi edisi "entahlah" haha. CANDU (Any Ranyka) Apa itu candu? Dentum jarum jam yang berjalan Waktu yang bergulir Masa lalu Serta rindu adalah candu Candu untuk kembali merengkuh yang dahulu Kala akar masih berukuran anak cacing di tanah hulu Kala daun masih hijau seperti baru Kala bunga-bunga belum tampak senyuman haru Rindu tetap bagaikan candu Perihal hati yang terjebak di masa lalu Hati yang terjerat keinginan tak menentu Ri...

Ramadhan, Masa Sulit Mengucap “Selamat Tinggal"

Gambar
By: Any Ranyka “ Terima kasih kepada pertemuan karena menyisakan kerinduan setelah perpisahan ” Sayup-sayup lantunan kalam suci membelai telingaku. Kemelut-kemelut yang membungkus langkah di sepanjang jam, menit, detik lalu menghilang sudah. Itulah malam ramadhan. Waktu gelap yang menjadi kesukaan Rama –namaku-. Kelahiran manusia menjadi masa terindah bagi orang tuanya, begitupun dengan abah dan umi yang selalu bercerita akan masa kecilku dengan tiada henti berserta senyuman kecil dari mereka. Akhirnya dengan suka cita dan harapan penuh, aku dinamakan Ramadhan, bulan kelahiranku. Dua puluh tahun yang lalu jeritan mungilku menjadi kenangan tersendiri bagi abah dan umi. Lantunan adzan pertama dari abah kujadikan suara terindah sepanjang masa, namun siapapun tak bisa mengelak jika mereka akan lupa akan suara adzan ayahnya sendiri. Secara sadar kujadikan suara yang terlupakan menjadi suara terindah sepanjang masa. Abah - umi, begitulah kalian sangat menyayangiku s...

Hijrahlah Cinta

Gambar
Hijrahlah Cinta By: Any Ranyka Hijrahlah cinta! Dia itu tempat kita mengukir masa depan. Berdoalah untuk masa depan agar ia tetap bertahan pada keikhtiarannya, bertahan pada harapan dan cita-citanya. Bagaimana keadaan masa depan kita jika kita saja sekarang suka uring-uringan tak bermanfaat, suka membuang-buang waktu tanpa tergunakan, dan suka menyia-nyiakan kesempatan masa muda? Beruntunglah wahai kamu yang sudah mendapat tempat untuk bisa saling menjaga. Dan beruntung juga bagi kamu yang tengah berusaha menjaga. Jagalah itu demiNya, bukan deminya. Karena dengan menjaga perasaanNya, kamu juga telah menjaga perasaannya.   Jadilah manusia peka yang kuat, mengertiNya, dan berjuang demi agamaNya. Jodoh itu sudah perkara ketentuanNya, tak perlu kamu ikat sekarang dengan janji-janji manis, dengan untaian romantis, atau dengan gandengan-gandengan tangan yang membuat miris, tak perlu juga dengan kode-kode tak bermanfaat. Ingatlah, yang belum halal hanya dosa yang didapat...

PESAN

Gambar
Pesan By: Any Ranyka Tempias hujan masih terasa. Beberapa menit yang lalu guyuran dingin sempat membungkus kota kecil yang jauh dari keramaian ini. Kugandengan tangan mungil anak yang memanggil ibuku dengan sebutan nenek, pahlawan kecilku yang selalu kubanggakan. Istriku melambaikan tangan cantiknya ke udara untuk menghantar kepergian kami. “Hati-hati di jalan!” teriaknya. Aku mengangguk sebagai jawaban, lantas ikut lembaikan tangan lalu membalikkan badan. Tapak kami berjalan menuju jalan setapak yang belum dibungkus aspal halus. Becek sudah menjadi teman alas kaki dekil ini. “Ayah!” Aku mengangkat kedua alisku lantas menundukkan wajah demi menatap anakku. “Kenapa kita melakukan ini setiap Jum’at?” tanyanya. Aku tersenyum. “Farhan tidak rindu dengan kakek?” kulemparkan tanya padanya. Farhan melipat kedua bibirnya sembari mengangguk. “Eung, tapi Farhan belum pernah bertemu dengan kakek, Yah,” ucapnya kemudian. Aku tertawa renyah. “Loh, buk...