PESAN
Pesan
By: Any Ranyka
Tempias hujan masih terasa.
Beberapa menit yang lalu guyuran dingin sempat membungkus kota kecil yang jauh
dari keramaian ini. Kugandengan tangan mungil anak yang memanggil ibuku dengan
sebutan nenek, pahlawan kecilku yang selalu kubanggakan. Istriku melambaikan
tangan cantiknya ke udara untuk menghantar kepergian kami.
“Hati-hati di jalan!” teriaknya.
Aku mengangguk sebagai jawaban,
lantas ikut lembaikan tangan lalu membalikkan badan.
Tapak kami berjalan menuju jalan
setapak yang belum dibungkus aspal halus. Becek sudah menjadi teman alas kaki
dekil ini.
“Ayah!”
Aku mengangkat kedua alisku lantas
menundukkan wajah demi menatap anakku.
“Kenapa kita melakukan ini setiap
Jum’at?” tanyanya.
Aku tersenyum. “Farhan tidak rindu
dengan kakek?” kulemparkan tanya padanya.
Farhan melipat kedua bibirnya
sembari mengangguk. “Eung, tapi Farhan belum pernah bertemu dengan kakek, Yah,”
ucapnya kemudian.
Aku tertawa renyah. “Loh, bukannya
kita lakukan setiap jum’at ini untuk bertemu dengan kakek?”
“Tapi haruskah kita ke kuburan?”
tanyanya kemudian.
Aku terdiam. Semilir angin membuat
baju koko yang kukenakan sedikit bergoyang mengikuti iramanya. Langkah kami
telah sampai di depan sebuah pusara yang sangat kurindu. Aku berjongkok
menyamakan tinggi badan Farhan dan mengusap kedua pundaknya.
“Farhan tolong ambil bata itu ya!
Lalu Ayah akan cerita sedikit kepadamu.”
Anak enam tahun itu mengangguk
mantap dan berlari kecil mengambil dua bongkahan bata untuk alas duduk kami
berdua. Setelah kuterima sodoran bata kecil ini, kududukkan diri di atasnya.
“Ayah mau cerita tentang apa?”
Aku tersenyum lagi. “Cerita tentang
laki-laki hebat yang pernah Ayah temui. Farhan mau mendengarkan, ‘kan?”
Anakku mengangguk begitu semangat,
persis ketika ia sangat antusias dengan dongeng yang kubacakan sebelum ia
tidur.
“Baiklah, kalau begitu Ayah mulai
cerita. Dahulu sekali, saat ayah masih kecil ....”
****
Sore itu, bau khas hujan menyeruak
masuk ke dalam hidung. Dalam senja sore yang mulai menunjukkan kegelapannya
kudekap erat tas butut sekolahku. Hanya bermodalkan perasaan takut, bimbang,
dan bingung kutatap wanita yang paling mulia menangis pilu di sampingku. Desau angin
menggelitiki telingaku kala kutolehkan wajah ke samping. Hawa dingin yang
seakan mengikuti arus hati kini menjadikan tubuhku semakin menggigil.
“Halim, bagaimana keadaan ibumu
setelah sendiri?” tanya wanita mulia yang duduk di sampingku.
Bibirku bergetar. “Ibu masih punya
Halim, bukan?”
Ibu terus menangis sejak beberapa
jam yang lalu. Ayah yang mengidap penyakit tetanus akibat menginjak paku
berkarat sore itu telah membuat keadaannya kritis hingga sekarang.
Adzan magrib berkumandang bersamaan
dengan rintik hujan yang kembali datang membasahi bumi.
“Ayo sholat!” ajak ibu yang
menyembunyikan rasa sakitnya. Bagaimana ia bisa baik-baik saja ketika belahan
jiwanya yang akan diizinkan oleh Tuhan untuk menghantarkannya ke surga
terbaring tak berdaya di atas ranjang pesakitan? Wanita mana yang akan tega
melihat hal seperti ini? Kurasa tak ada yang mampu menyalahi perasaan ibuku.
Aku memahaminya.
“Baiklah,” jawabku lantas berdiri.
Langkahku gontai menuju mushola
rumah sakit. Aku dan ibu berpisah di tempat wudlu khusus wanita dan pria.
Percikan air wudlu malah membuat tubuhku segar, meskipun hujan kini semakin
menunjukkan kederasannya, tak seperti tadi yang tubuhku begitu kedinginan.
Seusai wudlu, kurajut langkah
menuju mushola. Beruntungnya aku karena bisa sholat berjamaah di sini.
Setelah rangkaian do’a terpanjat,
entah hatiku merasa ingin sekali bertemu dengan ayah. Tanpa ada rasa ragu aku
berdiri dan berjalan sedikit memercepat langkah. Dari balik pintu kamar ayah,
seorang dokter muda keluar. Aku menghampirinya.
“Bagaimana keadaan ayah, Dok?”
“Apakah kamu anaknya? Yang bernama
Halim?”
Aku mengangguk sebagai jawaban.
“Ayahmu memanggilmu, masuklah!
Mungkin ada sesuatu yang akan disampaikannya.” Dokter itu menepuk pundakku dengan
pelan sebanyak dua kali. Seakan memberiku kekuatan agar aku tegar menghadapi
semua ini. Dokter muda tersebut lantas berlalu meninggalkanku.
Kulangkahkan kaki dengan pelan
memasuki ruangan.
“Assalamu’alaikum,” ucapku sembari membuka pintu kamar lalu
menutupnya.
“Wa’alaikumussalam.” Senyum sumringah menyambutku. Dadaku yang sejak
tadi sesak tak terperi kini semakin merasakan ketakutannya. Namun, setelah
senyuman itu kutangkap dengan baik, jiwaku seakan ikut membaik juga.
“Ayah?” panggilku.
Lambaian tangan itu menyuruhku
untuk mendekatinya. “Kemarilah, Halim anakku!”
“Iya, Ayah. Ada apa?” tanyaku
ketika tubuhku telah berada di samping ranjangnya. Kududukkan tubuhku di sebuah
kursi yang ada di sana. Kupegang erat tangan hangat yang tampak pucat itu.
“Ibumu masih sholat?” tanya ayah
sembari mengangkat kedua alisnya.
Aku mengangguk. “Iya, Ayah. Ayah
cepat sembuh ya, kasihan ibu menangis terus.”
Kembali, bulan sabit telah hadir di
wajah pucatnya. Ayah tampak lebih tampan semakin detik ini berlalu.
“Insyaallah, semua ini takdir dari-Nya yang tak mampu Ayah prediksi,
Nak. Serahkanlah kepada yang di atas, semua ini keputusan terbaik-Nya.”
Aku ikut tersenyum mengimbangi
ekspresi ayah yang begitu rupawan.
“Maafkan aku, Ayah. Selama ini
Halim sangat bandel kepada Ayah dan Ibu, Halim suka malas belajar, padahal
Halim tahu sendiri kalau biaya sekolah sekarang tak murah lagi. Maafkan Halim
yang hanya menjadi beban Ayah dan Ibu.”
“Subhanallah, Halim anakku. Sesungguhnya tak ada yang Ayah banggakan
selain dirimu. Hanya kamu anak satu-satunya yang Ayah cintai. Jangan pernah
merasa sakit, merasa menyesal, merasa buruk di mata manusia, Nak. Kamu harus
tegar, karena apa? Ada Allah yang selalu mendengar doamu sepanjang waktu, Dia
tak tidur, Sayang.” Tangan hangat nan pucat itu menyentuh ujung poni rambutku.
Tetes demi tetes begitu menghiasi wajahku setelah ucapan itu terlontar. Ayah
seperti itu sejak dahulu, itulah kenapa ibu sangat mencintainya dengan tulus.
Sesungguhnya ketulusan yang suci ini begitu indah jika dirasakan dengan sepenuh
hati. Dan itu sekarang terwujud di hapadanku, ketulusan yang tak ada duanya.
“Halim, Ayah memanggilmu karena ada
sesuatu yang akan Ayah sampaikan.”
“Baik, Ayah. Ada apa?”
“Kamu tahu lampu lalu lintas?
Asalkan kamu tahu, Nak. Ketika lampu merah telah menyala, itu menandakan bahwa
kita sebagai manusia harus duduk diam sebelum Allah memberikan waktu untuk kita
untuk bersiap-siap. Lalu, kuning. Itulah saat kita memersiapkan diri untuk menghadapi
dunia yang penuh dengan kefanaan ini. Dilanjut dengan hijau, kau tahu hijau
artinya apa?”
“Berjalan, Ayah.”
“Anak pintar. Hijau artinya
berjalan. Sungguh bagus sekali warna yang dicptakan-Nya itu, Nak. Ayah begitu
menyukai warna itu. Hijau itu menandakan kita untuk berjalan menghadapi apapun
yang akan ditemui nantinya. Akankah itu ular? Akankah itu api? Akankah itu
bahaya? Penyesalan? Semuanya akan terjadi tanpa sepengetahuan kita, Nak, dan
itu hanya milik-Nya, hanya Dialah yang tahu. Meski nanti kamu menemui sebuah
penghadang besar dalam hidupmu, yakinlah bahwa Sang Maha Mengetahui sedang
bersamamu, dan mendengar semua doa-doamu.”
Kutelan salivaku sendiri. Ayah
memang sosok penyemangat yang tak ada tandingannya. Tuhan benar-benar baik
telah menciptakanku menjadi anak satu-satunya.
“Halim anakku, jangan pernah
memandang manusia lain menjadi keburukannya saja. Allah menciptakan manusia ini
memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri. Saat pikiran buruk
menyergapmu, maka ingatlah bahwa kamu juga memiliki kekurangan sama sepertinya.
Semua manusia itu sama, Sayang, yang membedakan hanya ketakwaannya. Jadilah
kamu sosok pria idaman ayah, contohlah panutan hidup ini, Nabi Muhammad yang
akhlaknya mulia sekali. Idolakanlah Beliau di mana pun kamu berada, jadilah
kekasih dari akhlak baik yang menjadikanmu dekat dengan-Nya, Nak.”
Ribuan kata-kata nasihat itu keluar
dari bibir mulianya. Aku terdiam tak mampu mengucapkan apa-apa. Tapak kaki
belari terdengar semakin mendekat. Ayah tersenyum menyadari suara itu.
“Itu Ibumu. Jagalah dia demi Ayah,
Nak. Berbaktilah kepada wanita yang mudah menangis itu. Katakan padanya bahwa
Ayah sangat mencintainya sampai ajal menjemput. Satu lagi, jangan pernah
berhenti berkarya dengan anggota badan yang Allah ciptakan untukmu, syukurilah
apa yang kamu punya sebaik-baiknya. Sekarang, bisakah Halim keluar sebentar?
Ayah ingin bertemu dengan ibumu. Tak bertemu beberapa hari seperti setahun
saja,” ucap Ayah sembari terkekeh ringan.
Aku mengangguk. Kucium tangan
hangat itu dengan penuh kasih sayang. Lantas aku berpamitan untuk keluar
sembari mengucapkan salam. Setelah kututp pintu, ibu mendatangiku, wajahnya
yang sudah kuyu menampilkan kecantikannya dibalik kain yang menutupi rambutnya.
“Ayah ingin bertemu dengan Ibu,”
ucapku.
Wanita itu tak menanggapi ucapanku,
langkahnya kini dengan cepat memasuki ruangan.
Sementara menunggu apa rencana
Tuhan selanjutnya, kujatuhkan bokongku di atas bangku yang tadi kududuki.
Kuraih tas kusam yang tadi kudekap, kini mendekapnya lebih erat. Detak jarum
jam yang terdengar begitu nyaring menyamai detak jantungku.
Bersamaan dengan angin yang
berembus pelan, seakan berbisik ke dalam telinga, Ibu keluar dari ruangan
dengan wajah pucat pasi. Tapak kaki berlari mendekat. Seorang dokter muda dan
beberapa perawat memasuki kamar ayah. Kutatap saja wanita mulia itu tanpa
bertanya kenapa, hatiku seakan mengurungkan niat. Takut jika mengganggunya.
Dokter tadi keluar ruangan.
Wajahnya ikut lesu sembari memegangi jam arloji yang dikenakannya. Ibu yang
langsung mendengar apa yang diucapkan oleh dokter tersebut lantas menangis. Aku
berdiri sepontan, mencari tahu apa yang terjadi.
Bak petir menyambar bumi tanpa
izin, kabar yang ingin kujauhkan dari pendengaranku kini terdengar jelas.
Embusan napas yang dahulu memberiku semangat, dorongan kuat, kini telah enyah.
Hanya tersisa beberapa kata yang membekas. Hidup manusia yang tak tahu kapan
ajal akan menjemputnya, dalam setiap langkah terkadang tak ada yang menyadari
bahwa ia telah membuang-buang waktu.
“Ibu....” panggilku lirih.
Ibu tak menyahut. Pundaknya kini
bergetar akibat refleksi air mata yang dikeluarkannya. Begitu dengan ibu, air
mata yang kupunya tak bisa lagi kutahan lebih lama. Tetes demi tetes telah
jatuh menghantarkan jiwa bijaksana dalam hidupku. Sosok paling mengagumkan yang
kupunya. Semoga Ayah bahagia bersama-Nya.
****
“.... Jadi begitu ceritanya.”
Kulempar pandanganku ke arah Farhan
yang begitu diam ketika kuceritakan masa kecilku. Wajahnya menjadi berseri-seri
dengan mata kecil yang berkaca-kaca.
“Itu beneran kakek Farhan, Yah?”
Aku mengangguk menanggapinya.
“Bagaimana Ayah bisa begitu hafal
dengan ucapan kakek?”
Bagaimana aku bisa begitu hafal?
Itu adalah pertanyaan yang aku sendiri tak mampu menjawabnya, menjelaskannya,
dan mengetahuinya. Aku sendiri seakan bingung dengan keadaan yang memiliki
memori kuat ini. Apakah Ayah senantiasa mengingatkanku?
Aku tersenyum dan mengangguk
maklum. “Sepertinya Ayah terlalu banyak makan masakan ibumu, hahaha,” candaku.
“Ih, Ayah!” Farhan bersungut ria
menanggapi ucapanku.
“Nah, ayo berdoa untuk kakek.
Semoga kakek di surga sana bisa bahagia, Farhan mau, ‘kan mendoakan kakek?”
“Pastinya. Kakek juga akan
kuberitahu kalau besok Farhan sudah masuk SD.”
-----------------------------------------------------
Fin

Komentar
Posting Komentar