Ketika Tuhan Tersenyum










Ketika Tuhan Tersenyum
By: Any Ranyka

Kesendirian adalah saat di mana memberikan ruang kosong untuk menciantai Tuhan. Mengabarkan setiap kegiatan yang dijalani kepadaNya. Bercengkrama di malam-malam yang penuh hangat. Menyampaikan kasih dalam kisah yang sempat terpendam dari kata-kata. Tak terucap jelas, namun Ia yang memerjelasnya.

Kesendirian adalah masa di mana sebuah penantian menjadikan ujian yang menggairahkan. Pasalnya terkandung janji yang Tuhan berikan. Janji suci yang tak layak jika diingkari oleh manusia yang penuh dosa. Janji yang indah kala telah sampai di penghujungnya.

Kesendirian adalah di mana melihat dengan bebas ketika Tuhan tersenyum. Menyapanya sungguh anugerah yang tak ternilai. Dibangunkan di malam sunyi adalah waktu yang selalu ditunggu. Tuhan ingin terus berdiskusi mengenai masa depan.

Kesendirian adalah kala senyuman itu kembali merekah untuk kesekian kali. Setelah kekecewaan-kekecewaan yang dihadirkan oleh pengharapan kepada manusia menjadikan tubuh ini terasa lemas. Bahkan gairah untuk menatap awan saja tak ada. Namun Tuhan berjanji akan sebuah keindahan setelah kesakitan dan itu sebuah anugerah.

Cinta yang sesngguhnya  adalah cinta yang tak bisa memberikan kekhawatiran bahkan kekecewaan. Sedangkan sesempurna-sesempurnamu tak akan mampu menandingiNya. Itulah kenapa sampai detik ini aku duduk sendirian menunggu seseorang yang sanggup menemaniku menemui cintaku. Bersama menjaga dan bersama berjuang demi cintaNya. 

Bunga sakura yang hanya berbunga di setengah semi mampu menyirnakan kesumpekan sebentar. Tak seperti cintaNya yang menyadarkan bahkan menyegarkan. Itulah kenapa aku duduk di bawah pohon sakura dengan harapan kepada Tuhan bahwa aku sedang menunggu seseorang yang mau menemani dan merasakan keindahan semata ini. Menemani hari yang sekejap ini, dan terus bersama mempatenkan senyuman di bibir masing-masing. Berdiskusi akan si kecil mengenai langkahnya berjalan. Menembuskan kehangatan tangannya di atas telapak tanganku.

Ketika Tuhan tersenyum, adalah di mana saat kau mampu mengucapkan sebuah janji yang kuharapkan kepadaNya. Kutunggu dalam penantian kesendirian. Tuhan tersenyum karena ikatan halal itu menjadi bukti nyata cinta kita kepadaNya.

Ketika Tuhan tersenyum, adalah di mana saat kau bercerita tentang perjuanganmu menemukanku. Menemukanku yang bersembunyi di balik tirai kesendirian. Terus bersembunyi dan menunggu. Perjuanganmu memersiapkan diri untuk menjemaputku. Berbicara kepada kedua orang tuaku akan keberanianmu datang, niat tulusmu itu.

Dan kita sama-sama menyaksikan Tuhan tersenyum melihat dua insan bersimpuh penuh cinta dan harap kepadaNya. Dua insan yang berjanji satu sama lain untuk berjuang demiNya. Serta dua insan yang semangat dalam menikmati keindahan sakura yang sebentar. Itulah masa terindah saat menyaksian dengan jelas –Ketika Tuhan Tersenyum-.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pergaulan Sebagai Cetakan Karakter Anak

Nihayah