PESAN
Pesan By: Any Ranyka Tempias hujan masih terasa. Beberapa menit yang lalu guyuran dingin sempat membungkus kota kecil yang jauh dari keramaian ini. Kugandengan tangan mungil anak yang memanggil ibuku dengan sebutan nenek, pahlawan kecilku yang selalu kubanggakan. Istriku melambaikan tangan cantiknya ke udara untuk menghantar kepergian kami. “Hati-hati di jalan!” teriaknya. Aku mengangguk sebagai jawaban, lantas ikut lembaikan tangan lalu membalikkan badan. Tapak kami berjalan menuju jalan setapak yang belum dibungkus aspal halus. Becek sudah menjadi teman alas kaki dekil ini. “Ayah!” Aku mengangkat kedua alisku lantas menundukkan wajah demi menatap anakku. “Kenapa kita melakukan ini setiap Jum’at?” tanyanya. Aku tersenyum. “Farhan tidak rindu dengan kakek?” kulemparkan tanya padanya. Farhan melipat kedua bibirnya sembari mengangguk. “Eung, tapi Farhan belum pernah bertemu dengan kakek, Yah,” ucapnya kemudian. Aku tertawa renyah. “Loh, buk...